Salurkan Infaq Anda untuk PEMBANGUNAN GEDUNG MADRASAH DINIYAH MUHAMMADIYAH SIDOMULYO KEC.ANGGANA KAB.KUKAR melalui: BRI UNIT ANGGANA No. Rek. 4565.01.003179.53.3 a.n. PIMPINAN CABANG MUHAMMADIYAH ANGGANA

AmirHady RadioOnline

Free Shoutcast HostingRadio Stream Hosting

lazada

Minggu, 30 April 2006

Din: Pancasila Sebagai Dasar Negara RI Sudah Final

Jakarta-RoL — Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan
Pancasila adalah bentuk final dan ideal bagi rakyat Indonesia yang
majemuk atas dasar agama, suku dan bahasa.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin
dalam diskusi publik yang diselenggarakan USINDO (Persahabatan
Amerika-Indonesia) di National Press Club, Washington DC, Jumat,
menyampaikan hal itu ketika menjawab pertanyaan dalam diskusi itu
tentang ide negara Islam atau negara syariat Islam yang diajukan
sejumlah kalangan umat Islam di Indonesia.

Din kepada Antara, Sabtu, mengatakan Negara Pancasila adalah ijtihad
politik para pendiri bangsa termasuk tokoh-tokoh Islam. Ketua
Pimpinan Pusat Muhammadiyah waktu itu, Ki Bagus Hadikusumo, adalah
orang yang paling berjasa mengubah tujuh kata, "Dengan kewajiban
menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya" menjadi "Ketuhanan yang
Maha Esa" seperti sekarang ini.
Namun, kata Din, semua pihak tidak perlu alergi terhadap adanya
gagasan negara Islam maupun negara syariat Islam, karena dalam
perspektif demokrasi semua kelompok masyarakat punya hak untuk
berpendapat selama disalurkan lewat mekanisme konstitusional di
lembaga demokrasi seperti DPR/MPR.

Ceramah dan dialog Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang juga
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat ini disambut antusias
para tokoh Amerika yang terdiri dari mantan diplomat, anggota
konggres dan pengusaha.
Mereka gencar bertanya tentang masa depan demokrasi di Indonesia
terkait kendala radikalisme Islam.

Din Syamsuddin meyakinkan mereka bahwa andil umat Islam sangat besar
dalam mendorong demokratisasi Indonesia dan adanya gejala
radikalisme agama tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan karena
hal itu adalah gejala temporer yang akan berkurang jika sumber-
sumber penyebabnya diatasi, seperti kemiskinan, keterbelakangan dan
ketidakadilan.

Din sangat yakin, selama arus tengah Islam, seperti Muhammadiyah,
Nahdlatul Ulama dan organisasi massa besar lain, masih berpengaruh
dan berperan maka Islam Indonesia tetap menjadi faktor efektif
Indonesia dan demokrasi Indonesia di masa depan.

Oleh karena itulah lanjut Din, Muhammadiyah tengah berbenah diri
melakukan konsolidasi dan revitalisasi diri menjadi gerakan
kebudayaan dan peradaban dinamis dengan pusat-pusat keunggulan
strategis.

Dalam pertemuan dengan utusan khusus pemerintah Amerika Serikat
tentang kebebasan beragama, John Hanford, Din meyakinkannya bahwa
kebebasan beragama sangat dijunjung tinggi oleh Islam. Dia lalu
mengutip ayat al-Qur'an yang menyatakan "Tidak ada paksaan dalam
beragama".

Karenanya umat Islam Indonesia telah menunjukkan toleransi besar
dalam hidup berdampingan secara damai. Sulit dibayangkan Indonesia
seperti sekarang ini tanpa toleransi umat Islam sebagai kelompok
mayoritas.

Bahwa adanya gejala konflik dewasa ini, menurut Din, lebih
disebabkan karena adanya segelintir orang di kalangan umat berbagai
agama, baik Islam maupun Kristen, yang fundamentalis dan kurang
memahami asas hidup koeksistensi dalam masyarakat majemuk, disamping
masih lemahnya negara dalam penegakan hukum.


Kunjungan 10 hari Din Syamsuddin masih berlanjut dan direncanakan
hari ini dia berceramah dan berdialog dengan masyarakat Indonesia di
KBRI Washington DC, dan pada 1 Mei berceramah di almamaternya UCLA
tentang "Islam and the Future of Democracy in Indonesia".antara/mim

CATATAN PAK AMING

Terlalu gegabah menyatakan Ki Bagus Hadikusuno adalah orang yang paling berjasa mengubah tujuh kata, "Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya" menjadi "Ketuhanan yang Maha Esa" seperti sekarang ini. atau malah kesalahan besar tokoh-tokoh Islam pada saat itu. Yang jelas kita sekarang ini sulit memperoleh cerita yang “sahih” seputar penghapusan 7 kata tersebut.

Itulah Indonesia, apa-apa dibebankan kepada umat Islam, umat Islam harus demokratis, harus berlaku adil, harus toleran, sementara umat yang lain tidak dituntut untuk itu. Mestinya kalau menjunjung asas domokrasi, jumlah umat Islam yang 80 % harus bisa mengatur dirinya sendiri di negara ini, tapi kenyataannya malah sebaliknya. Umat Islam yang 80 % harus merasa adil dengan penguasaan ekonomi 20 %, sementara umat yang hanya 20 % menguasai ekonomi 80 %, Umat Islam yang 80 % harus bertoleransi yang sangat tinggi terhadap umat lain yang hanya 20 %. Terhadap masalah kebebasan beragama umat Islam tidak perlu lagi diajari.

Oleh karena itu, saya pikir tidak perlu kita terlalu berlebih-lebihan terhadap amerika, apalagi sampai berkunjung kesana segala, untuk memberikan penjelasan. Amerika bukan atasan kita, amerika bukan bos kita.

Sabtu, 29 April 2006

membaca buku, belajar menulis

Tadi siang aku jalan-jalan ke toko buku, ternyata aku menemukan sebuah buku dengan judul "Blog media menulis tanpa batas, mudah dan praktis", karya Erwin Sutomo. Ternyata buku ini memberikan motivasi dan cara belajar untuk menulis. Memang, aku pengen juga jadi penulis, tapi kadang-kadang susah untuk memulainya, nah dibuku tersebut ternyata dikupas habis semua permasalahan tersebut. Dibuku lain pernah aku temukan bahwa "untuk menjadi penulis sebenarnya gampang, kalau orang bisa membaca pasti dia bisa menulis". Jadi yang menjadi masalah memang "Malas", itu saja, betul pendapat Erwin Sutomo tersebut. Bahkan lanjutnya, tidak usah memikirkan gaya bahasa, format tulisan dan lain-lain, pokoknya tulis aja, tulis terus apa yang ada di otak...... Terima kasih Mas Erwin Sutomo.....